Outermost Small Islands in Indonesia for Quarantine Area and Livestock Development

Endang Sutedi, Iwan Herdiawan, Eko Handiwirawan

Abstract

Indonesia has about 17,506 islands consisting of large and small islands. Outermost small islands are direct boundary of Indonesia with neighboring countries. These outermost islands have the potency to be used as quarantine area and for livestock development, especially beef cattle in order to support the development of food security of meat. Some of outermost islands are Jemaja island in Riau Province, Singkil island in Aceh Province and Naduk island in Bangka Belitung Province. Criteria to determine quarantine area and livestock development are availability of natural resources (fresh water and forage), free of contagious diseases, human resources, market access, and transportation. This paper describes about the condition and forage availability in those three islands and their surrounding area. Those islands have potential variety of forage with different carrying capacities. Type of grass that has been adapted in the outermost islands are Paspalum conjugatum, Axonopus compressus, Cynodon dactylon, Cynodon plectostachyus, and Panicum repens.

Keywords

Outermost islands; forage; quarantine; livestock

Full Text:

PDF

References

Baihaqi R. 2006. Analisis keberadaan 92 pulau-pulau terluar di Indonesia dalam mendukung Pengembangan konsep tol laut. J Pendididkan Geografi. 16:184-197.

BPS. 2013. Jumlah rumah tanggga usaha peternakan di Provinsi Aceh. Jakarta (Indonesia): Badan Pusat Statistik.

Budiharta S, Purnomo PD. 2007. Keunggulan komparatif pemanfaatan pulau-pulau kecil dalam surveillance dan monitoring kesehatan hewan. Dalam: Workshop Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil untuk Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong. Bogor, 11 September 2007. Bogor (Indonesia): Puslitbangnak.

Cook BG. 2007. Setaria NSW Deprtment of Primary Industries - Setaria Agnote DPI-293. Pasture Autralia. A collaboration between AWI, GRDC, MLA, RIRDC and Dairy Australia [Internet]. Available from: http://keys.lucidcentral.org/keys/v3/pastures/index.htm

Destaranti, Sulistyani N, Yani E. 2017. Struktur dan vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan pinus di RPH Kalirajut dan RPH Baturaden Banyumas. Scripta Biol. 4:155-160.

Direktorat Wilayah Pertahanan. 2010. Optimalisasi pengelolaan 12 pulau-pulau kecil terluar yang berbatasan dengan negara tetangga guna memperkuat batas maritim NKRI. Jakarta (Indonesia): Kementerian Pertahanan.

Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal. 2017. Potensi daerah tertinggal di Kabupaten Aceh Singkil. Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal [Internet]. [cited 1 January 2018]. Available from: http://ditjenpdt.kemendesa.go.id/potensi/district/6-kabupaten-aceh-singkil

Ditjen Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 2004. Kebijakan dan strategi nasional pengelolaan pulau-pulau kecil. Mawardi I, Retraubun AS, penyunting. Jakarta (Indonesia): Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan.

Fauzi A. 2003. Penilaian potensi ekonomi sumberdaya pulau-pulau kecil. Denpasar (Indonesia): Seminar Potensi Investasi Pulau-Pulau Kecil.

Hall EAA, Specht RI, Eardly. 1964. Regeneration of the vegetaion on koonamore vegetation reserve 1926-1962. Aust J Bot. 12:205-264.

Ibemesin RI. 2010. Effect of sallinity and wytch farm crud oil on Paspalum conjugatum bergius (sour grass). J Biol Sci. 10:122-130.

Inounu I. 2007. Pemanfaatan pulau-pulau kecil untuk pengembangan usaha ternak sapi potong. Dalam: Workshop Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil untuk Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong. Bogor, 11 September 2007. Bogor (Indonesia): Puslitbangnak.

Inounu I, Martindah E, Saptati RA, Priyanti A. 2007. Potensi ekosistem pulau-pulau kecil dan terluar untuk pengembangan usaha sapi potong. Wartazoa. 17:156-164.

Jaelani LM. 2004. Pulau-pulau terluar. Dalam: Pertemuan Ilmiah Tahunan I. Surabaya, 13 Oktober 2004. Surabaya (Indonesia): Teknik Geodesi, ITS: hlm. 58-63.

Kusumo ATS. 2010. Optimalisasi pengelolaan dan pemberdayaan pulau-pulau terluar dalam rangka mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. J Dinamika Hukum. 10:328-337.

Lakitan B. 2013. Kebijakan sistem inovasi dalam membangun pusat unggulan peternakan. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Forum Komunikasi Industri Peternakan. Bogor, 13-19 September 2013. Bogor (Indonesia): Pusat Penelitian Bioteknologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Lupoyo MAL. 2014. Analisis kualitas daging sapi berdasarkan standar ASUH (Aman, sehat, utuh, halal) pada tempat pemotongan hewan di Kota Gorontalo Tahun 2013 [Tesis]. [Gorontalo (Indonesia)]: Universitas Negeri Gorontalo.

Mannatje LT. 2017. Ottochloa nodosa. FAO [Internet]. [cited 1 January 2018]. Available from: ttp://www.fao.org/ ag/agp/agpc/doc/gbase/data/pf000491.htm

Mariyono, Krishna NH. 2009. Pemanfaatann dan keterbatasan hasil ikutan pertanian serta strategi pemberian pakan berbasis limbah pertanian untuk sapi potong. Wartazoa. 19:31-42.

Nugroho SP. 2000. Strategi pengembangan sumber daya air di pulau-pulau kecil secara optimal dan berkelanjutan. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Ekosistem Pantai dan Pulau-Pulau Kecil dalam Konteks Negara Kepulauan. Yogyakarta (Indonesia): Universitas Gadjah Mada. hlm. 171-175.

Pelitawati S. 2006. Analisis potensi sumberdaya lahan untuk pengembangan sapi potong di Kabupaten Bangka [Tesis]. [Bogor (Indonesia)]: Institut Pertanian Bogor.

Prawiradiputra BR, Sutedi E, Sajimin, Fanindi A. 2012. Hijauan pakan ternak untuk lahan sub-optimal. Jakarta (Indonesia): IAARD Press.

Rumondang J, Setiadi Y, Hilwan I. 2016. Uji adaptabilitas Paspalum conjugatum Berg, Setaria splendida stapf, dan Vetiveria zizanoides (L) Nash, pada toksisitas almunium. J Silvikultur Trop. 7:211-216.

Samadi, Usman Y, Delima M. 2010. Kajian potensi limbah pertanian sebagai pakan ternak ruminansia di Kabupaten Aceh Besar. Agripet. 10:644.

Siregar CN. 2008. Analisis potensi daerah pulau-pulau terpencil dalam rangka meningkatkan ketahanan, keamanan nasional, dan keutuhan wilayah NKRI di Nunukan, Kalimantan Timur. J Sosioteknologi. 13:345-368.

Sitindaon SH. 2013. Inventarisasi potensi bahan pakan ternak ruminansia di Provinsi Riau. J Peternakan. 10:18-23.

Sutedi E, Talaohu SA, Herdiawan I, Handiwirawan E, Suratman, Affandhy I, Nasution SH. 2015. Daya dukung tanaman pakan ternak adaftif di pulau-pulau terluar wilayah Indonesia bagian Barat. Bogor (Indonesia): Puslitbangnak. (unpublished)

Tiesnamurti B, Handiwirawan E, Affandhy L, Herdiawan I, Sutedi E, Suratman, Talaohu SA, Nasution SH, Mulyana A, Herindra LD. 2016. Identifikasi pulau-pulau kecil sebagai pulau karantina atau pulau untuk budidaya sapi potong di Provinsi Kepulauan Riau. Bogor (Indonesia): Puslitbangnak.

Tim Redaksi. 2004. Pulau-pulau terluar Indonesia. Jakarta (Indonesia): Buletin Dishidros TNIAL Edisi 1/III.

Trisnadi G. 2015. Pulau karantina (sapi) pilhan atau keharusan. Membangun kesehatan hewan untuk kesehatan manusia [Internet]. [disitasi 1 Januari 2018]. Tersedia dari: https://karyadrh.blogspot.co.id/ 2015/01/pulau-karantina-sapi-pilihan-atau.html

Ugiansky R. 2010. Plant guide for Florida paspalum (Paspalum floridanum). Beltsville (US): USDA NRCS National Plant Materials Center.

Uva R, Neal J, Tomaso JD. 2010. Grass and grass-like weeds. Georgia Turf [Internet]. Available from: http://caes2. caes.uga.edu/commodities/turfgrass/georgiaturf/WeedMngt/GrassWeed.html

Vare H, Kukkonen I. 2005. Seven new species of Cyperus (Cyperaceae) section Arrenarri and one new combination and typication. Ann Bot Fenn. 42:473-483.

Widarti A, Sukaenih. 2015. Keragaman jenis pakan ternak dan ketersediaannya di wilayah sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia. 1:1565-1569.

Yusdja Y, Ilham N. 2004. Tinjauan kebijakan pengembangan agribisnis sapi potong. J Analisis Kebijakan Pertanian. 2:167-182.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Copyright (c)  2017 WARTAZOA. Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.