Screening IBR dan Diferensial Leukosit untuk Pengendalian Gangguan Reproduksi Sapi PO

Y Widyaningrum, D Pamungkas, A Lukman

Abstract


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kasus gangguan reproduksi pada sapi PO dan penanggulangannya dengan analisis screening Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) serta diferensial leukosit. Sapi PO 47 ekor umur 24 bulan dilakukan anamnesa, pemeriksaan klinis, reproduksi dan pengendalian gangguan reproduksi dengan uji screening IBR dan pemeriksaan diferensial leukosit. Data dianalisis sidik ragam (ANOVA) dan deskriptif. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 12 (25,53%) sapi PO mengalami gangguan reproduksi meliputi hipofungsi ovarium dan atropi, 10 (21,27%) sapi sudah bunting dan 25 (53,19%) sapi sudah menunjukkan estrus. PBBH sapi PO yang mengalami gangguan reproduksi lebih rendah 0,31±0,09 kg/ekor/hari dibandingkan sapi normal 0,54±0,15 kg/ekor/hari. Hasil penghitungan diferensial leukosit menunjukkan persentase limfosit pada kedua kelompok tidak berbeda signifikan masing-masing adalah 64,41±6,05 dan 65,89±2,17, sedangkan persentase sel neutrofil masing-masing adalah 26,75±1,93 dan 31,20±5,13. Hasil pengujian screening IBR Colorado pada kedua kelompok ternak antibodi negatif. Disimpulkan bahwa gangguan reproduksi pada sapi PO tidak berpengaruh terhadap penyakit IBR serta persentase sel limfosit dan neutrofil, namun dipengaruhi oleh faktor pakan ditandai dengan PBBH sapi yang mengalami gangguan reproduksi berbeda nyata dengan sapi normal.

Keywords


Gangguan Reproduksi; Sapi PO; IBR; Taman Teknologi Pertanian

Full Text:

PDF

References


Achjadi K. 2013. Manajemen kesehatan reproduksi dan biosekuriti. Makalah Pertemuan Swasembada Persusuan di Indonesia. Yogyakarta (Indonesia).

Astuti M. 2004. Potensi dan keragaman sumberdaya genetik sapi Peranakan Ongole (PO). Wartazoa. 4:98-106.

Adjid ARM. 2014. Strategi alternatif pengendalian penyakit reproduksi menular untuk meningkatkan efisiensi reproduksi sapi potong. Wartazoa. 14:125-132.

Budiyantono A, Tarsius CT, Triguntoro, Heni KD. 2016. Gangguan reproduksi sapi Bali pada pola pemeliharaan semi intensif di daerah sistem integrasi sapi – kelapa sawit. Acta Vet Indones. 4:14-18.

Gitonga PN. 2010. Pospartum reproductive performance of dairy cows in medium and large scale farms in Kiambu and Nakuku District of Kenya [Thesis]. Nairobi (Kenya): University of Nairobi Faculty of Veterinary Medicine.

Khamas DJ. 2011. Hormonal treatments of inactive ovaries of cows and buffaloes. J Vet Sci. 44:7-13.

Murphy MG, Enright WJ, Crowe MA, Mc Conneel K, Spicer LJ, Boland MP, Roche JF. 1991. Effect of dietary intake on pattern of growth of dominant follicle during the estrus cycle in beef heifers. J Reprod Fertil. 92:333-338.

Putri AN. 2014. Jumlah limfosit dan neutrofil dihubungkan dengan service per conseption (s/c), calving interval (ci) dan estrus post partum (epp) pada sapi potong di Yogyakarta [Thesis]. Yogyakarta (Indonesia): Universitas Gadjah Mada.

Pradhan R. 2008. Reproductive disorders in cattle due to nutritional status. J Int Dev Coop. 14:45-46.

Pryce JE, Coffey MP, Simmg. 2001. The relationship between body condition score and reproductive performance. J Dairy Sci. 84:1508-1515.

Sarker PK, Rahman MM, Shamsudin. 2015. Effects of GnRH analogue and vitamin ADE on induction of cyclicity in anoestrus heifers. Bangladesh J Vet Med. 13:33-40.




DOI: http://dx.doi.org/10.14334/Pros.Semnas.TPV-2017-p.167-173

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN
Jl. Raya Pajajaran Kav E59 Bogor 16151 Jawa Barat, Indonesia
Telepon: (+62) 251 8322185, (+62) 251 8328383 e-Mail: medpub329@gmail.com
Website: http://peternakan.litbang.pertanian.go.id