Tingkat Kejadian Gangguan Reproduksi Sapi Bali dan Madura pada Sistem Pemeliharaan Kandang Kelompok

M Luthfi, Y Widyaningrum

Abstract


Penelitian ini bertujuan memberikan informasi kasus-kasus gangguan reproduksi pada sapi potong induk dengan sistem pemeliharaan kandang kelompok di Kandang Percobaan Loka Penelitian Sapi potong dari tahun 2013-2016. Materi yang digunakan induk sapi Bali dan induk sapi Madura masing-masing 130 ekor. Parameter yang diamati distokia, abortus, retensio scundinae, prolapsus uteri. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan gangguan reproduksi pada induk sapi Bali umur 2 tahun kasus tertinggi distokia (3,08%) dan abortus (0,77%), umur 5 tahun terjadi kasus tertinggi retensio scundinae (4,62%), selanjutnya pada induk sapi Madura umur 3 tahun kasus prolapsus uteri dan retensio scundinae masing-masing (1,54%), pada umur 4 tahun terjadi kasus tertinggi retensio scundinae (2,31%), dan pada umur 5 tahun kasus tertinggi retensio scundinae (3,86%). Kejadian gangguan reproduksi induk sapi Bali bobot ringan (≤250 kg) kasus yang muncul tertinggi retensio scundinae (3,08%), pada induk bobot sedang (251-300 kg) distokia (0,77%) dan retensi scundinae (0,77%), pada induk bobot gemuk (≥301 kg) kasus retensio scundinae (0,77%). Sedangkan pada induk sapi Madura bobot ringan kasus tertinggi retensio scundinae (3,08%), pada yang bobot sedang kasus retensio scundinae (1,54%) dan pada yang bobot gemuk kasus retensio scundinae (0,77%). Gangguan reproduksi induk sapi Bali yang bobot lahir rendah (≤15 kg) kasus tertinggi retensio scundinae (4,62%), bobot lahir sedang (16-20 kg) dan pada sapi dengan bobot lahir tinggi kasus yang muncul distokia masing-masing (1,54%). Untuk induk sapi Madura yang bobot rendah kasus tertinggi retensio scundinae (3,08%), pada bobot sedang dan tinggi retensio scundinae masing-masing (2,31%). Disimpulkan bahwa tingkat kejadian tertinggi pada gangguan reproduksi berdasarkan umur, bobot induk waktu melahirkan dan bobot lahir pada sapi Bali dan Madura adalah kasus retensio scundinae. Oleh karena itu pencegahan dapat dilakukan dengan memperhatikan pakan, kandang, sanitasi, kesehatan dan bangsa sapi karena kemampuan reproduksi masing-masing bangsa sapi berbeda.

Keywords


Gangguan Reproduksi; Sapi Bali; Sapi Madura; Kandang Kelompok

Full Text:

PDF

References


Affandhy L, Pratiwi WC, Ratnawati D. 2007. Penanganan gangguan reproduksi pada sapi potong. Bogor (Indonesia): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.. hlm. 17-21.

Anderson P. 2012. Cow/Calf Management: Minimizing calving difficulty in beef cattle. University of Minnesota Extension. Americans with Disabilities Act. p. 1-10.

Anggorodi R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta (Indonesia): PT Gramedia.

Bugiwati SRA. 2007. Body dimension growth of calf bull in Bone and Baru District, South Sulawesi. J Sains Teknol. 7:103-108.

Budiyanto A. 2012. Peningkatan tingkat kebuntingan dan kelahiran sapi di Indonesia dan masalah-masalah yang terkait. Makalah disampaikan pada Seminar Updating Penyakit Gangguan Reproduksi dan Penanganannya pada Ruminansia Besar, 8 Maret 2012. PDHI Cabang DIY.

Budiyanto A, Tophianong TC, Triguntoro, Dewi HK. 2016. Gangguan reproduksi sapi Bali pada pola pemeliharaan semi intensif di daerah sistem integrasi sapi-kelapa sawit. Acta Vet Indones. 4:14-18.

Hardjopranjoto S. 1995. Ilmu kemajiran pada ternak. Surabaya (Indonesia): Airlangga Universitas Press.

Hayati, Choliq. 2009. Ilmu reproduksi hewan. Jakarta (Indonesia): PT Mutiara Sumber Widya.

Jackson PG. 2007. Handbook obstetrik veteriner. Edisi ke-2. Junaidi A, penerjemah. Yogyakarta (Indonesia): Gadjah Mada University Press.

Noor RR. 2010. Genetika ternak. Edisi ke-6. Jakarta (Indonesia): Penebar Swadaya.

Nijman IJ, Otsen M, Verkaar ELC, de Ruijter C, Hanekamp E, Ochieng JY, Shamshad E, Rege JEO, Hanotte O, Bavergen MW, Susilawati T, Lenstra JA. 2003. Hybridization of Banteng (Bos javanicus) and Zebu (Bos Indicus) Revealed by Mitocondrial DNA, Satelite DNA, AFLP and Microsatellite. Hered J. 90:10-16.

Peters AR, Ball PJH. 2007. Reproduction in cattle. Thrid edition. Oxford (UK): Blackwell Publishing. p. 166-170.

Phocas F, Laloe D. 2003. Evaluation models and genetic parameters for calving difficulty in beef cattle. J Anim Sci. 81:933-938.

Roberts SJ. 2012. Veterinary obstetrics and genital diseases. Paperback. White Fish (USA): Literary Licensing, LLC. 566 p.

Salisbury GW, van Demark NL, Lodge JR. 1993. Fisiologi reproduksi daninseminasi buatan pada sapi. Djanuar, Penerjemah. Yogyakarta (Indonesia): Universitas Gadjah Mada.

Tillman, Allen D, Hartadi H, Reksohadiprodjo S, Prawirokusumo S, Lebdosoekojo S. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar, Cetakan VI. Yogyakarta (Indonesia): Gadjah Mada University Press.

Toelihere M.R. 1985. Fisiologi reproduksi pada ternak. Bandung (Indonesia): Angkasa.

Toelihere M.R. 2006. Ilmu kebidanan pada ternak sapi dan kerbau. Jakarta (Indonesia): Universitas Indonesia Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.14334/Pros.Semnas.TPV-2017-p.102-109

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN
Jl. Raya Pajajaran Kav E59 Bogor 16151 Jawa Barat, Indonesia
Telepon: (+62) 251 8322185, (+62) 251 8328383 e-Mail: medpub329@gmail.com
Website: http://peternakan.litbang.pertanian.go.id